Jumat, 28 Oktober 2016

Resensi Cerpen (Piknik)

                                                      Resensi Cerpen“Piknik”
Judul: Piknik
Pengarang: Agus Noor

Pendahuluan:
    Latar Belakang Pengarang Agus Noor dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, 26 Juni 1968. Menulis cerita pendek dan esai, dan dipublikasikan antara lain di Horison, Kompas, Jawa Pos. Karya-karyanya: Bapak Presiden yang Terhormat (1999) dan Memorabilia (2000), Selingkuh itu Indah (2002-2006, cet. 15), Rendevouz (2004), dan Potongan Cerita di Kartu Pos (2006). Tahun 1992, cerpennya yangberjudul “Musuh” memperoleh penghargaan sastra Festival Kesenian Yogyakarta. Tiga cerpennya yang lain,“Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru”, “Tak Ada Mawar di Jalan Raya” memperoleh Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada 1999. Prosa “Pemburu dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik majalah sastra Horison episode 1990-2000. Tahun 1998 mengikuti Writing Program Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Selain itu, tersebar di berbagai antologi, antara lain: Lukisan Matahari (1993), Lampor (1994; kumpulan cerita pendek terbaik Kompas).

Sinopsis :
    Tokoh utama dalam cerpen ini menggambarkan para korban bencana alam yang menderita. Kotanya hancur. Para pelancong dari negeri jauh-jauh datangmengunjungi kota tersebut untuk menyaksikan kepedihan. Penampilan para pelancongyang selalu riang membuat mereka sedikit merasa terhibur. Mereka menduga, para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yang sudah terlampau bahagia.Dengan bagaimana para pelancong membantu para korban bencana itu? Coba luangkan sedikit waktu untuk membaca cerpen peraih Anugerah Cerpen Indonesia ini, mungkin akan menambah inspirasi karya sastra kita.
Analisis Unsur Intrinsik
Tema: Bencana Alam
Latar: Sebuah kota yang hancur
Alur: Maju
Tokoh: Para korban bencana dan para pelancong
Perwatakan: Para korban orang yang lugu dan polosPara pelancong orang yang tidak punya hati dan licik
Sudut Pandang: Pengarang sebagai pelaku utamaNilai
Moral:Membantu orang haruslah dilandasi dengan hati yang ikhlas
Nilai Sosial: Janganlah menambah penderitaan terhadap orang lain yang sudah tertimpa musibah.
Nilai Budaya: Kebiasaan masyarakat yang datang untuk mengunjungi korban bencana alam hanya sekedar untuk melihat penderitaan para korban.

Keunggulan :

Pengarang menitik beratkan gambaran terhadap masyarakat jaman sekarang dan bahasa sastra baru, kebahasaan yang sangat dijiwai pengarang membuat para pembaca kagum dan ikut merasakan bagaimana kisah tersebut terjadi.
Kelemahan:
 CerpenTidak adanya peran atau tokoh utama yang jelas. Pada cerita ini, pengarang hanya mencantumkan masyarakat sebagai tokoh utamanya.
Kesimpulan:
Berdasarkan dari keunggulan dan kelemahan cerpen ini menilai bahwa cerpen ini baik untuk dipublikasikan karena akan menambah imajinasi pembaca dan mencoba untuk memotivasi menjadi penulis.

Resensi Novel (Pesantren Impian)

                                                 Resensi Novel Pesantren Impian
Judul     : Pesantren Impian
Penulis   : Asma Nadia
Penerbit  : Asma Nadia Publishing House
Tebal      : 300 halaman
Harga      :Rp.55.000

Isi resensi
Tubuh/isi
Sinopsis :
   
    Lima belas remaja putri dan putra dengan masa lallu kelam , menerima undangan misterius untuk  menetanp di pesantren impian. Sebuah tempat rehabiilitas di pulau yang bahkan tak tercantum di dalam peta. Sebuah pondok yang kecil dan didirikan oleh Gus Budiman.Pesantren ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kedua bagi siapa saja orang yang memiliki masa lalu yang gelap untuk mencapai tujuannya.
    Semua gadis rata rata memiliki masalah tersendiri. Sisy seorang model seksi datang bersama sahabatnya bernama Inong. Butet memiliki masalah tentang kasus narkobanya. Sri memiliki masalah dengan skandal pelacurannya. Sementara Rini yang dari luar terlihat lugu ternyata dia hamil diluar nikah. Selain mereka masih banyak orang dengan sederet persoalan yang mereka hadapi. Termasuk Eni, seorang polwan muda, cantik, cerdas dam masih muda yang sedang meneliti kasus pembunuhan di Hotel Crystal, dan mendapatkan petunjuk bahwa tersangkanya berada di pesantren impian tersebut.

      Tidak mudah mencairkan suasana yang kaku diantara para santriwati yang tidak pernah saling mengenal. Sebab masa lalu dan berbagai persoalan yang menghampiri mereka sudah berkarat. Namun ada tiga orang yang selalu menyemangati para santriwati yaitu Ustadz Agam dan Ustadzah Hanum, serta Umar sosok laki laki tampan yang misterius dan juga denkat dengan Gus Budiman. Secara perlahan pintu hati mereka terbuka, mereka perlahan mengenal Islam menjadi dalam. Bak pesantren itu adalah rumah kedua bagi mereka yang menawarkan oase sejuk yang tak pernah mereka dapatkan
Hinga suatu hari pesantren mulai diserang. Kematian kematian para santriwati yang aneh mulai  terjadi. Penghuni pesantren muali takut, keadaan semakin tercekam. Apa yang sedang terjadi?Siapa yang menyerang pesantren tersebut?
       Si gadis pembunuh yang selam ini diburu oleh si polisi juga berada dalam rombongan ini terus menghantui mereka beberapa waktu terakhir menjelang selesainya masa pendidikan. Teungku Budiman sang pemilik pesantren yang sangat cemas dengan keadaan pesantren karena mulai diganggu oleh orang-orang luar yang meneror para siswi pesantren. Lalu bagaimana dengan nasib para gadis-gadis ini setelah teror-teror mengganggu mereka dan apakah si gadis pembunuh itu tertangkap oleh si polisi, lalu bagaimana dengan keadaan Pesantren Impian ini?
Bisakah Eni dan kawan kawan selamat dari serangan tersebut?

Kelebihan novel :

1. Ditulis dengan bahasa sederhana dan tidak njlimet sehingga mudah dipahami.
2. Sangat mengasyikkan, saat membuka lembar demi lembar halaman dengan penuh rasa penasaran, karena sang penulis sangat rapi menyimpan identitas tokohnya hingga di lembar terakhir.

Kekurangannya :

 Adegan kekerasannya kurang seru sebagai novel misteri bergenre detektif.

Kesimpulan :

      Penulis meracik sebuah cerita dengan sangat seru! Begitu jeli menyembunyikan si gadis pembunuh itu sebagai tokoh utama dalam novel ini. Jadi, pembaca diajak untuk menemukan sendiri siapa nama asli dari pembunuh itu. Letupan-letupan klimaks yang tak terduga, serta misteri-misteri kejadian yang menimpa para santriwati, membuat novel ini begitu hidup. Selain itu bahasa yang digunakan pun enak, dan tidak terjamah pada hal-hal yang vulgar. Novel ini mengajarkan bahwa sebaik-baiknya seorang manusia di depan mata kita, dia pasti punya aib dan kekurangan diri, besar atau kecil. Namun Allah yang Maha Menjaga Rahasia begitu sempurna menyembunyikan aib itu di mata manusia lain. Jadi, jangan heran ketika seorang yang anda kenal baik, dikemudian hari menjadi sosok yang berdosa. Semoga kita menjadi lebih baik.


Pesan moralnya :
      Harta bukanlah sumber kebahagiaan, terlebih bila itu diperoleh dengan cara yang salah, bahkan justru akan mencelakakan diri dan keluarga.Sekelam dan sehitam apapun masa lalu kita, Tuhan akan selalu membuka pintu taubat. Dan hidayah itu harus dijemput. Kepada-Nya tempat orang-orang beriman kembali.?